Chapter 6 - Praktek Lapangan | The Main Heroines are Trying to Kill Me

Chapter 6 – Praktek Lapangan

Bagian 1

“Sekarang waktunya latihan praktek. Semuanya, ikuti aku ke lapangan.”

Ketika istirahat berakhir dan kelas berlanjut, Prof. Isolet berbalik dan keluar kelas setelah memberikan intruksi untuk mengikutinya.

“Tch, jika saja dia bukan seorang Bywalker …”

“Menjengkelkan … lebih baik belajar di kelas saja …”

Sementara murid-murid biasa bersiap untuk pergi, mayoritas murid aristokrat menggerutu dan menyalahkan Isolet.

‘Mereka membicarakannya di belakang karena tidak berani mengatakannya langsung … menyedihkan.’

Mereka menjadi marah karena meski jika mereka ingin berbicara terbuka pada seseorang, mereka tetap tidak bisa. Namun begitulah rutinitas harian orang-orang seperti mereka.

Tapi apa orang-orang ini cukup terampil?

Tentu saja tidak.

Kebanyakan murid aristokrat di Kelas A, kelas dengan peringkat tertinggi di akademi, masuk dengan jalur belakang. Dengan kata lain, jika Isolet mengayunkan pedangnya sekali saja, kebanyakan dari mereka akan pingsan dingin.

Di sisi lain, para murid biasa diterima karena kemampuan mereka sendiri. Karena itulah kebanyakan bangsawan memandang mereka sebagai rendahan namun di waktu yang sama juga iri pada mereka.

“Permisi, Tuan Frey, jika anda berubah pikiran …”

Omong-omong, disaat aku melirik para bangsawan, Saintess menghampiriku dan mulai berbicara lagi dengan muka yang putus asa.

“Aku bilang tidak mau, jalang.”

Tentu saja, aku tidak punya niat untuk mati sebelum mengalahkan Raja Iblis, jadi aku menghina sang Saintess yang mencoba meyakinkanku untuk pergi bersamanya.

“…!”

Saintess yang tampak terkejut, langsung lari keluar kelas. Yah, itu tidak terlalu mengagetkan karena sifat kebaikan alaminya, dia tidak pernah dipanggil kasar sebelumnya.

‘… Omong-omong, apakah dia akan terus melakukannya? Ini bisa jadi bermasalah.’

Meskipun sang Saintess memiliki buff curang yang disebut “Berkah dari sang Dewa Matahari”, pada kenyataannya faktor risiko buff itu cukup rendah karena dia tidak terlalu bisa merencanakan sesuatu. Selama aku berhati-hati, kemungkinan dia tidak bisa membunuhku.

Namun jika Saintess terus-terusan melakukan lelucon ini, aku akan jadi kesulitan.

Ini karena ‘Intuisi False Evil’-ku, yang memperingatkanku jika ada bahaya sekali satu hari akan dinetralisir.

Jika Saintess menghampiriku terus-menerus seperti ini setiap hari sambil memicu ‘Intuisi False Evil’, aku jadi tidak tahu kapan datangnya bahaya yang sebenarnya.

Dengan kata lain, Saintess secara tidak sengaja menempatkanku dalam bahaya dengan menetralkan skillku yang paling berguna saat ini.

Tidak peduli bagaimana aku harus mengatasi hal ini.

“… Ugh.”

Saat aku merenungkannya, tiba-tiba aku mendengar desahan seseorang. Saat aku melirik kesamping, aku melihat Irina terpuruk dikelilingi beberapa murid perempuan aristokrat.

“Oh, apa yang kamu lakukan? Kakimu tersandung?”

“Apa? Mereka bilang dia masa depannya menjanjikan, tapi pada kenyataannya tidak, kan?”

“Ha, aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya bisa masuk Kelas A meskipun dia hanya orang biasa … apa dia menyogok seseorang dengan uang?”

Melihat asap hitam di perutnya, tampaknya dia terkena mantra sihir seseorang setelah berdebat dengan para bangsawan.

Jika kondisinya baik-baik saja dan bisa menggunakan skillnya, kemungkinan para bangsawan itu sudah terhempas hanya dengan satu kibasan jarinya. Namun dia sekarang berada di kondisi ‘Kehabisan Mana’, jadi dia tidak bisa menghadapi mereka sebagaimana dia tidak bisa menggunakan sihirnya seperti biasa.

“….”

Irina yang merintih sambil memegang perutnya, melihatku sedang menatapnya dalam keadaan kesakitan dan memberikan tatapan mengerikan penuh benci.

Biasanya, jika aku seorang karakter utama dalam drama hero biasa, di situasi seperti ini, setelah menegur para bangsawan dengan perilaku sopan, aku akan memegang tangan Irina dan menggendongnya.

Setelah itu Irina akan mulai menyukaiku karena menyelamatkannya, yang hanya seorang rakyat biasa …. Lalu kemungkinan dia akan bergabung dengan ‘party harem’-ku sebagai ‘anggota harem’. Itulah yang dituliskan buku ramalan.

Tapi sayangnya, aku bukanlah karakter utama ‘biasa’ yang muncul di drama-drama. Untuk menjadi seorang Hero, aku perlu melakukan ‘False Evil’.

“… Kamu pikir kamu bisa bergabung dengan osis?”

“… Apa?”

“Ketahui tempatmu, dasar makhluk rendahan.”

Saat aku menghinanya, para gadis aristokrat yang mengelilinginya mulai membaca mantra sihir. Dalam situasi gawat itu, tepat sebelum dia diterkam beberapa mantra sihir …

“Hey, berhenti!!”

“… Arianne!”

Arianne, temannya Irina, melebarkan barrier perlindungan menggunakan kedua tangannya.

“Irina, kamu baik-baik saja?”

“Ka-Kamu …”

“Hey, berhenti membuli orang yang tidak bersalah … ayo pergi di jalan masing-masing, oke?”

“….”

Para gadis yang terhalang oleh barrier kuatnya, yang berupa mantra sihir perlindungan spesial, pergi satu per satu segere ketika mereka kehilangan minatnya setelah menyentuh barrier sihir itu beberapa kali.

“… Seorang teman rendahan yang cocok dengan kehidupan rendahannya.”

Saat melihat pemandangan seperti itu, aku berbicara sarkas pada mereka dan mulai berbicara dengan para gadis aristokrat, yang mengalihkan perhatian mereka padaku yang sedang melamun.

‘… Arianne. Dia akan cukup berguna untuk merawat Irina.’

Arianne merupakan teman masa kecilnya Irina.

Lahir dengan bakat bawaan untuk sihir perlindungan, dia membentuk duo yang tangguh dengan Irina, yang punya bakat luar biasa dalam sihir penyerangan.

Di masa depan, ketika legiun Raja Iblis menyerang, mereka berdua bekerja sama membantai satu pasukan di medan pertempuran.

“Arianne … terima kasih ….”

“Tidak perlu! Kita teman, bukan? Daripada itu, Irina, kenapa kamu kehabisan mana? Apa mungkin kamu mengutuk seseorang?”

“…….”

Sementara itu, Irina diam tidak berkata-kata sejenak setelah mendengar pertanyaan Arianne, lalu membuka mulutnya.

“Arianne.”

“… Ya?”

“… Kali ini, aku akan melindungimu apapun yang terjadi. Pasti.”

“…?”

Arianne menggelengkan kepalanya kebingungan setelah mendengar perkataan serius Irina. Faktanya, dia mengorbankan nyawanya untuk melindungi Irina saat invasi Raja Iblis. Jadi bagi Irina, insiden itu masih membekas dalam hati, membuatnya trauma.

Mungkin perkataan itu adalah … pengakuannya untuk melindungi dan tidak akan membiarkan dia mati di depan matanya lagi.

Chapter 6 - Praktek Lapangan | The Main Heroines are Trying to Kill Me

Aku menghela nafas sejenak melihat jendela sistem yang muncul, memperlihatkan jumlah poin yang kudapat dari keinginan Irina untuk membunuhku. Setelah itu aku meninggalkan kelas bersama para gadis bangsawan yang cekikikan.

.

.

.


Bagian 2

“Praktek hari ini kalian akan berlatih pertarungan.”

Prof. Isolet berteriak sambil melihat para murid Kelas A yang berkumpul dengan lirikan tajam.

“Kalian akan berlatih dengan berdual denganku.”

Para murid langsung gaduh setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.

“Diam!!”

Teriakannya langsung membuat para murid hening, lalu dia membuka mulutnya lagi sambil menatap para murid yang cemas.

“Keluarkan semua kemampuan kalian agar aku bisa mengetahui kemampuan dan potensi yang kalian miliki.”

Setelah menyelesaikan perkataannya, Prof. Isolet mengeluarkan pedangnya dan mulai memanggil para murid satu per satu.

Segera setelah, pembantaian para bangsawan-pun terjadi.

“Saya mohon, tolong santai saja … kwaaak!”

“… Menyedihkan. Lanjut!”

“Kyaa!!”

“Ini bukanlah fireball, tapi kembang api. Cocok untuk pesta ulang tahun. Lanjut!”

“Sekarang, jangan terlalu bersemangat … Ugh …!”

“Aku yakin preman jalanan-pun lebih jago menggunakan pedang daripada dirimu. Lanjut!”

Dengan cara itulah dia memberi pelajaran pada para murid aristokrat yang masuk melalui jalur belakang tanpa memberi mereka kesempatan sama sekali.

“Haa … haa ….”

“… Pertahanmu kurang, tapi serangan awalmu cukup tajam. Berhati-hatilah akan itu dan dedikasikan dirimu untuk berusaha lagi. Lanjut!”

“… Haa … ha.”

“Sihirmu cukup sempurna, namun rapalanmu sangat lama. Dalam pertarungan sesungguhnya, hidup dan mati bisa tergantung pada kecepatan rapalanmu, jadi sebaiknya kamu memperhatikan hal itu. Lanjut.”

“Heup!!”

“… Cukup bagus. Lanjut.”

Namun tidak seperti para bangsawan, para orang biasa rata-rata menikmatinya, sebagaimana dia memuji dan bahkan memberitahu mereka hal yang harus mereka perbaiki.

“… Professor ini sangat menjengkelkan, bukan?”

“Tidakkah kamu perhatikan? Profesor hanya memberikan perlakuan istimewa pada orang biasa dibanding kita yang seorang bangsawan.”

“Biarkan saja. Jalang itu mungkin berpikir dirinya orang baik.”

Reputasi Isolet di kalangan bangsawan memang tidak terlalu bagus.

‘… Orang-orang dungu itu tidak menyadari kalau kemampuan mereka sendiri kurang.”

Tentu saja, Prof. Isolet mengevaluasi semua murid secara menyeluruh berdasarkan kemampuan mereka. Faktanya, dia juga memuji beberapa murid aristokrat yang cukup berbakat.

Meski para bangsawan dungu itu tidak akan pernah mengakuinya.

“… Tuan Muda.”

“… Ya?”

Saat aku hanyut dalam pikiran, Kania yang berdiri di sampingku, menanyakan sesuatu.

“Apa mungkin anda kurang baik belakangan ini?”

“… Apa maksudmu?”

Aku menggelengkan kepalaku dan menanyakan apa maksud dari pertanyaan konyolnya itu. Kania yang diam-diam menatap mataku sejenak lalu melanjutkan.

“Itu … tidak jadi. Hanya saja, kelihatannya, tampak seperti itu.”

“… Aku baik-baik saja, lagipula kamu tidak perlu ikut campur.”

“… Baiklah.”

Setelah menyelesaikan obrolannya, Kania membalikkan kepalanya untuk menonton duel, tetapi ekspresi wajahnya memperlihatkan kalau dia masih memikirkan sesuatu.

‘… Ada apa dengannya?’

Aku menggelengkan kepalaku sejenak melihat perilaku anehnya, tapi segera keraguanku hilang ketika profesor menunjuk Kania dan mulai gugup.

‘… Aku sungguh berharap sihir hitam tidak keluar.’

Mananya saat ini dalam kondisi genting, jadi ada kemungkinan mana gelap merembes keluar. Untuk bersiap-siap jika hal seperti itu terjadi, aku mentransfer sedikit life force-ku padanya pagi ini, tapi aku tetap merasa gugup.

— Clink.

Setelah merenung sejenak, aku menyentuh beberapa bros yang aku pasangkan pada pakaian Kania dan mulai menatap matanya.

Bros yang aku sentuh merupakan artifak yang bisa mentransfer life force ke orang yang aku tatap. Tadinya aku berniat menggunakannya hanya dalam kondisi darurat karena artifak itu menyedot beberapa kali lipat life force-ku daripada mentransfernya langsung dengan kontak fisik.

Meski begitu, aku juga biasa menggunakannya dalam situasi ketika kontak fisik tidak memungkinkan atau ketika ada resiko sihir hitam Kania diketahui orang-orang, seperti saat ini.

‘Bahkan jika para murid tidak akan menyadarinya, Prof. Isolet pasti bisa merasakannya meski hanya sedikit mana gelap yang keluar … yah, mau bagaimana lagi.’

“… Heup!”

“… Hmmm.”

Segera setelah aku mulai membagikan life force-ku, Kania mulai merapalkan sihir dengan ekspresi lebih santai dari biasanya. Segera duel mereka berlangsung dan cukup lama dibanding duel-duel sebelumnya.

Saat aku merasa kaku seiring waktu, aku bingung untuk melanjutkannya atau tidak. Tapi Kemudian Kania berhenti menggunakain sihir dan menundukkan kepalanya.

“… Saya hanya bisa bertarung sejauh ini.”

“Hmm? Kenapa? Bukankah kamu masih punya kekuatan untuk melanjutkannya?”

“Saya dilahirkan dengan mana yang tidak stabil, jadi jika saya melanjutkan pertarungan ini, mana saya akan lepas kendali. Saya mohon maaf.”

“…Kurasa itulah alasanmu menahan diri saat menyerang.”

Profesor Isolet menyarungkan pedangnya, lalu memberikan nasihatnya.

“Jika kamu bisa menstabilkan manamu, kamu akan menjadi penyihir yang luar biasa. Izinkan aku membantumu mulai sekarang.”

“… Terima kasih.”

Dan begitulah, Kania memberikan terima kasihnya sambil menundukan kepala, lalu kembali ke sampingku. Kali ini, Irina yang dipanggil oleh Prof. Isolet.

“… Ugh, Ugh.”

“……?”

Irina yang berdiri menghadapi Prof. Isolet, mengatupkan giginya dan gemetaran, sebagaimana dia hanya bisa meluncurkan satu serangan panah sihir.

“… Apa yang kamu sedang coba lakukan?”

“Ma-Maaf … izinkan saya … mencoba lagi …”

Setelah itu, Irina berkonsentrasi penuh hingga matanya berwarna merah menyala, tapi setelahnya, setelah beberapa waktu berlalu, dia hanya bisa meluncurkan dua lagi serangan panah sihir.

“… Ugh.”

Meski begitu, Irina terus mencurahkan mananya hingga dia terjatuh dan pingsan.

“… Aku tidak tahu harus berkata apa. Seseorang, tolong bawa anak ini ke UKS. Lanjut.”

Seperti yang Prof. Isolet bilang, Arianne berlari menuju Irina dengan ekspresi cemas, lalu membawanya ke kelas daripada ke UKS.

Yah, itu tidak bisa dihindari.

Jika mereka mengumumkan status Irina yang kehabisan mana, maka penyebabnya akan diselidiki. Dalam kasus ini, sihir reverse tracking bisa menuntunnya pada kutukan kematian yang dia rapal untukku. Jadi untuk menghindari, mereka tidak punya pilihan selain menyembunyikan fakta.

Ketika toko item di sistem terbuka, aku perlu mencari beberapa artifak yang bisa membantunya.

“Aku, yah … aku menyerah …”

“… Huh?”

Saintess Perloche, penantang selanjutnya yang maju, memutuskan untuk langsung menyerah.

“Apa kamu bercanda sekarang?”

“Ah, tidak …. Aku hanya tidak ingin menggunakan kekuatan ini pada profesor ….”

Berkah dari sang Dewa Matahari hanya bisa digunakan dengan berdoa pada hari sakral dan izin dari gereja, namun sekarang Perloche dapat menggunakannya langsung tanpa memikirkan kedua hal tersebut. Jika dia bertarung dengan Prof. Isolet, kebenarannya akan terungkap.

Tentu saja, seseorang mungkin berpikir bahwa itu diizinkan karena dia berada di bawah naungan Prof. Isolet, namun ada juga alasan kenapa legenda yang menyebutkan kalau Saintess generasi sebelumnya bisa melukai fatal Raja Iblis itu benar-benar ada.

Meskipun berkah dari sang Dewa Matahari itu lemah jika digunakan ke banyak musuh, berkah itu tetap mengerikan yang tidak ada cara untuk menahannya dalam pertarungan satu lawan satu. Dengan kata lain, apapun yang Prof. Isolet lakukan, dia tidak akan mampu melawannya.

“… Kalau begitu tinggal seorang lagi.”

Prof. Isolet yang sedang menatap Perloche, berbalik arah dan mulai menatapku, murid terakhir yang belum duel dengannya.

“… Jendela Status.”

Chapter 6 - Praktek Lapangan | The Main Heroines are Trying to Kill Me

Aku bergumam dan membuka jendela status Isolet. Setelah menatapnya sejenak, aku segera mengeluarkan pedangku dan bertanya.

“… Apa kamu merasa senang bermain-main dengan orang-orang biasa itu, kak?”

“…….”

“Kenapa kamu diam ketika seseorang bertanya padamu …?”

“… Kamu berubah, Frey.”

Ya, sebenarnya aku mengenalnya.

Keluarga Starlight dan keluarga Bywalker mempunyai ikatan dalam yang terjalin dengan baik selama beberapa generasi sejak era party sang Hero 1000 tahun yang lalu. Karena itu, kami punya hubungan dekat seperti adik kakak dan sudah saling kenal sejak masih kecil/

Kami terbiasa berlatih pedang bersama dan main rumah-rumahan, tapi dia tidak lagi berada di sisiku.

Sekarang aku menjadi musuh semua orang.

“… Berubah? Terdengar konyol. Kupikir kakaklah yang menjadi bodoh.”

“…….”

“Lucu sekali melihat hal yang bisa kamu lakukan setelah menolak posisi Wakil Komandan Ksatria Kekaisaran hanya bermain-main denganku, seperti ketika kita masih kecil.”

“… Datanglah.”

“Sesuai permintaanmu.”

Dimomen dia memotong perkataanku dengan kalimat dinginnya, aku berlari sambil mengarahkan pedangku ke arahnya.

— Clank!!!

Lalu percikan api terlihat.

“…!”

“Kenapa? Terkejut?”

Dia terdorong mundur untuk beberapa saat setelah menahan seranganku dengan tangan kanannya yang gemetaran, sebagaimana aku terus menyerangnya, memanfaatkan celah yang terbuka.

“… Apa? Apakah Tuan Muda Frey sebagus ini dalam kemampuan berpedangnya?”

“Yah, bukankah itu alami karena dia keturunan Starlight?”

“… Tapi kudengar Tuan Frey tidak terlalu bisa dalam menggunakan pedang?”

Sementara para murid terkejut dan mulai mengoceh tentang skillku yang tidak terduga, Perloche yang merendahkan kepalanya, menatap dingin pada bros yang bersinar di punggungku.

— Clank!!

Duel sengit berakhir ketika aku pedangnya terlempar dan tertancap di lantai. Para murid yang menonton tercengan akan hasil duel ini …

“… Itu sihir!”

Segera Perloche menengahi kami dan berteriak sambil menunjuk pada brosku.

“… Ada sihir jahat di bros itu!”

Berkata demikian, Perloche melangkah mendekatiku dan mulai memasukkan kekuatan suci pada brosku. Segera aura jahat keluar dari brosku dengan suara mengerikan.

— Screeeeeeech!!!

Brosku yang mengeluarkan jeritan mengerikan di waktu yang lama, tidak mampu menahan kekuatan suci dan hancur berkeping-keping. Kemudian Isolet yang menonton baik-baik hal ini mulai membuka mulutnya dengan ekspresi wajah yang mengeras.

“… Untuk berpikir kamu menggunakan sihir jahat seperti ini. Kamu benar-benar aib bagi keluarga Starlight.”

“Bukankah kakak juga aib bagi keluarga Bywalker?”

“Frey Raon Starlight, kamu dihukum pengurangan 10 poin karena menggunakan artifak yang melanggar aturan.”

“… Kenapa? Kamu tidak bisa mengatakan apapun jadi kamu menyerangku menggunakan otorisasimu sebagai profesor?”

“… Sebagai tambahan, konseling individu. Ikuti aku sekarang.”

Setelah itu aku mengikuti Isolet menuju gedung utama seperti yang diintruksikan. Aku menghela nafas dan bergumam pelan sambil menatap jendela sistem yang muncul di hadapanku.

Chapter 6 - Praktek Lapangan | The Main Heroines are Trying to Kill Me

“… Itu cukup mahal.”

Aku ingat menghabiskan aset ketigaku untuk memodifikasi bros itu. Yah, itu tidak masalah selama hasilnya juga bagus … namun tetap saja itu sia-sia, karena harusnya aku bisa menggunakannya berulang kali semauku.

‘… Aku perlu menulis surat pada ayahku untuk meminta uang lebih.’

Aku mengikuti Isolet dengan patuh sambil meratapi ironi bahwa diperlukan keberuntungan untuk melakukan lebih banyak perbuatan jahat.

.

.

.


Bagian 3

Disaat Frey menggerutu sambil mengikuti Isolet.

“Sihir jahat …”

Kania, yang mendengar kalimat ‘sihir jahat’, mengingat kembali selembar sprei berdarah yang ada di atas kasur yang dia lihat di asrama. Dia lalu bergumam dengan tatapan tajam.

“… Aku perlu menyelidiki apa yang sedang dia lakukan di asrama.”

Segera setelah Kania mengatakan hal itu, sesuatu telah terbuat menggunakan mana gelap yang terkumpul di tangannya.


Navigasi

< Sebelumnya  |  Selanjutnya >

DAFTAR CHAPTER

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Heeriye - Jasleen Royat ft. Arijit Singh | Lirik Lagu & Terjemahan Indonesia

Happy End (ハッピーエンド) - back number | Lirik Lagu & Terjemahan Indonesia

Mr. Perfect (ミスターパーフェクト) - back number | Lirik Lagu & Terjemahan Indonesia